Berawal Dari Kutukan Gadis Cantik, Begini Sejarah Nyi Ronggeng

Berawal Dari Kutukan Gadis Cantik, Begini Sejarah Nyi Ronggeng

Pernah mendengar tari ronggeng? Ini adalah salah satu jenis tarian daerah yang cukup terkenal dan berkembang di Pulau Jawa. Tak hanya di Jawa, tradisi ini juga cukup dikenal di kawasan Sumatera tepatnya di Tanjung Malaka. Selain itu, sejarah Nyi Ronggeng juga tak luput dari sorotan masyarakat.

Selama ini, tarian ronggeng dikenal dengan paras para wanitanya yang diumpamakan sebagai gadis cantik nan jelita. Melalui iringan musik gong, rebab hingga biola, membawa penari melenggang sembari bertukar ayat-ayat puitis bersama pasangannya.

Salah satu tokoh yang paling melegenda adalah Nyi Ratna Herang, seorang penari yang terkenal pada era 20-an atau biasa juga disebut dengan Nyi Ronggeng. Ia, tak hanya dikenal karena kemampuan menarinya yang menakjubkan tapi juga karena paras dan tubuhnya yang indah.

Kelebihan inilah, yang akhirnya membuat Nyi Ronggeng digilai banyak pria pada zamannya, terutama di kawasan Kuningan. Saking terkenalnya Nyi Ronggeng saat itu, tiap acara atau hajatan akan selalu memanggilnya sebagai pengisi acara.

Meski begitu, wanita yang juga kerap disapa Nyi Ratna ini tak berumur panjang. Ia meninggal di usianya yang masih sangat muda yaitu 18 tahun. Semasa hidupnya, Ia memiliki citra buruk lantaran dinilai mudah ditiduri oleh banyak pria dengan bayaran tinggi.

Nyi Ronggeng memang dikenal sebagai wanita cantik yang menjadi bayaran para pria sebagai pemuas nafsu. Hal ini pula, yang membuat banyak masyarakat percaya jika Nyi Ronggeng menemui malapetaka hingga akhir kematiannya.

Sejarah Nyi Ronggeng dan Kematiannya

Konon, kematian Nyi Ronggeng bermula ketika dua orang juara tengah melakukan pertarungan sengit demi merebut Nyi Ronggeng. Dalam pertarungan berdarah itu, keduanya dikisahkan memiliki kekuatan yang sama besarnya. Tragisnya, wanita yang mereka perebutkan tak sengaja terbunuh di tempat tersebut.

Meski begitu, hingga hari kematiannya, Nyi Ronggeng mengatakan sebuah kalimat. “Di sini (di daerah ini), tak akan ada perempuan yang secantik saya sampai umur 19 tahun.”

Kutukan Gadis 19 Tahun

Kalimat inilah yang kemudian membuat masyarakat percaya terhadap kutukan setiap gadis yang masih berusia di bawah 19 tahun. Kisah ini masih cukup dipercaya masyarakat sekitar Ciherang-Kuningan, sehingga para gadis berusia di bawah 19 tahun kerap diungsikan keluar kota dan tinggal di rumah kerabat mereka.

Jika memasuki usia tersebut, barulah para gadis tersebut bisa kembali ke tempat mereka berasal. Dalam beberapa cerita masyarakat, terdapat puluhan gadis cantik yang telah meninggal sebelum memasuki usia 19 tahun. Kisah ini dipercaya menjadi kutukan abadi yang akan terus dialami setiap gadis cantik sebelum usia tersebut.

Kematian Nyi Ronggeng

Masih dalam sejarah yang sama, mayat Nyi Ronggeng diceritakan dihanyutkan ke Sungai Cigede hingga ditemukan oleh masyarakat setempat. Mayatnya kemudian dikuburkan dan menjadi makan spesial. Tak sedikit masyarakat yang kemudian mendatangi makamnya untuk meminta berkah. Termasuk, para seniman yang berharap karyanya diakui oleh masyarakat.

Meski begitu, tak sedikit pula yang enggan mendekati makan sang penari. Banyak saksi mata, yang melihat sesosok anak kecil misterius di sekitar makam. Saat dikejar pun, anak tersebut alam berlangsung menghilang meski juga kerap menunjukkan dirinya di depan pengunjung. Masyarakat, menyebut sosok tersebut sebagai Kembang Karang.

Itulah sejarah Nyi Ronggeng atau Nyi Ratna yang cukup dikenal masyarakat. Meski beberapa menganggapnya sebagai mitos, cerita ini cukup dipercaya dan menjadi kisah yang melegenda dan terus diceritakan warga setempat.

CATEGORIES
TAGS
Share This