Simak Sejarah Nyi Ageng Serang, Pejuang Wanita Berkuda

Simak Sejarah Nyi Ageng Serang, Pejuang Wanita Berkuda

Nama Nyi Ageng Serang mungkin tak seterkenal R.A Kartini atau Cut Nyak Dien. Meski begitu, Ia adalah salah satu pahlawan wanita yang berkontribusi besar terhadap perjuangan Indonesia. Sejarah Nyi Ageng Serang sendiri cukup panjang, dimana Ia meninggal di usia yang terbilang panjang yakni 93 tahun.

Sejarah Nyi Ageng Serang dan Putri Pangeran

Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi tepatnya pada 1752-1828. Ia adalah pejuang wanita yang diabadikan melalui patung berkuda sembari membawa tombak panjang. Nyi Ageng merupakan putri dari pangeran Natapraja, penguasa daerah terpencil dari Kerajaan Mataram.

Kawasan ini berada di perbatasan Grobogan-Sragen. Nyi Ageng Serang sendiri menggantikan posisi sang ayah yang sekaligus merupakan keturunan Sultan Kalijaga. Ia, lahir dari keluarga pahlawan Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.

Kehidupan Nyi Ageng Serang

Sebagai putri bungsu dari Pangeran Natapraja, tak membuat Nyi Ageng Serang tumbuh menjadi wanita congkak yang hidup mewah. Sebaliknya, Ia dikenal bijaksana dan kuat, berbeda dengan wanita pada umumnya.

Saat usianya menginjak 16 tahun, Ia dipersunting oleh Hamengkubowono II meski pernikahannya tak berlangsung lama. Ia kemudian menikah lagi dengan Pangeran Mutia Kusumowijoyo atau Pangeran Serang I. Pasangan tersebut kemudian menetap di Serang, dekat Demak atau kawasan pantai utara Jawa.

Keduanya dianugerahi seorang putra bernama Pangeran Kusumowijoyo sekaligus dijuluki sebagai Pangeran Serang II. Sang pangeran dan ibunya, dikisahkan memiliki kesaktian luar biasa atau tenaga batin yang kuat. Kemampuan ini, diperoleh dari gua-gua sunyi di pantai selatan Jawa.

Beberapa kabar juga sempat menyebutkan, jika Diponegoro siap untuk mengalihkan sebagian besar wewenangnya kepada cucu Raden Ayu Serang-Raden Mas Papak- jika berhasil memenangkan pertempuran dengan Belanda.

Ahli Strategi Perang

Pada era Perang Jawa, Nyi Ageng Serang juga turut serta dalam membantu sang putra. Ia adalah ahli strategi perang yang jenius, taktiknya banyak digunakan dan berhasil membawa kemenangan bagi pasukannya. Misal saja, taktik saat berkamuflase menjadi daun keladi.

Ketika itu, Ia meminta para pasukannya maupun rakyat membawa dan menggunakan daun keladi menutupi kepala setiap kali berperang. Dengan daun tersebut, musuh akan terkecoh karena mengira mereka hanya daun keladi yang bergerak karena angin dari kejauhan.

Saat musuh telah berada pada jarak yang dekat, barulah mereka melakukan penyerangan. Taktik ini cukup ampuh dalam membantai musuh mereka ketika itu. Nyi Ageng Serang bukanlah orang sungkan menghancurkan musuh dengan tangannya sendiri.

Keberanian inilah yang membuat Nyi Ageng Serang digambarkan menaiki kuda dan menggunakan tombak pada patung di pertigaan jalan utama Kulon Progo. Kesaktian dan kemampuannya mampu membawa kemenangan di banyak peperangan.

Dalam catatan sejarah yang sama, Nyi Ageng juga mampu membunuh Ki Sumbar Jaya, sang pengkhianat menggunakan cundrik dan selendangnya. Julukan lain yang diterima Nyi Ageng adalah Dyajeng Sekar.

Sederet kemampuan ini membuatnya dimuliakan dan dimahsyurkan masyarakat setempat. Terlebih, statusnya sebagai pejuang yang berpengaruh besar terhadap penduduk setempat. Bahkan ketika perang Jawa berakhir pada 28 Maret 1828, Nyi Ageng dianggap sebagai pejuang wanita terhebat.

Kematian Nyi Ageng di Usia 93 Tahun

Saat Raden Mas Papak menyerah, Nyi Ageng melawan dan rela masuk dalam pengawasan Belanda. Masa hidupnya yang lebih lama dari Pangeran Serang II, bahkan cucunya sendiri Raden Mas Papak membuatnya hidup dalam banyak ujian.

Ia kemudian meninggal pada tanggal 10 Agustus 1855. Ketika itu, penguasa Belanda di Yogyakarta selalu mengawasinya selama lebih dari dua dasawarsa sebagai, sejarah Nyi Ageng Serang yang cukup kelam namun dikenang.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS